5 Kebiasaan Sederhana yang Akan Membuat Mental Kamu Sekuat Baja
12 Apr 2023

Apakah dengan 5 kebiasaan kecil ini bisa membuat mental kuat? Yuk simak!

Source https://www.pexels.com/ susana seseorang sedang merasa tertekan di lingkungan pekerjaanya
Ketika kamu membaca artikel ini, kamu mungkin akan merasa senang dan bersyukur jika tulisan ini muncul di waktu yang tepat. Di mana itu artinya kamu sudah siap memulai kegiatan baru yang lebih baik lagi dikemudian hari. Namun, apakah kamu menyadari tentang sesuatu hal yaitu:
“Sebenarnya bagaimana sih cara untuk memiliki mental sekuat baja? atau, apakah dengan memiliki mental yang kuat, artinya kita tidak boleh menangis?” Hm… penasaran kan, yuk simak penjelasan di bawah.
Menjadi kuat secara mental artinya seseorang memiliki kemampuan dalam memahami dan menganalisis tentang apa yang lebih penting untuk di prioritaskan dalam kegiatannya dan mengesampingkan ego sesaat.
Seseorang yang memiliki mental yang kuat biasanya memiliki sikap yang positif, optimis, dan juga tahan banting dalam menghadapi rintangan dari setiap kegagalan kejadian yang tidak terduga.
Di lain sisi, memiliki pribadi mental baja bukan berarti kamu tidak boleh merasakan atau menolak perasaan negatif sedih, kecewa, ataupun marah. Sebaliknya, dalam moment terberat dalam hidup, kamu harus bisa menerima, evaluasi, dan mengelola emosi buruk dengan cara yang baik di dalam situasi apa pun.
Misalnya, menerima kritikan bersifat sarkasme sebagai lelucon ataupun tekanan tak diundang dari orang lain, itu adalah dua hal yang sangat mungkin kita alami di dalam lingkungan sosial. Jika hal ini terjadi, sangat wajar bila kamu akan merasa tidak nyaman sebagai representasi emosi kesal, sedih, rendah diri, malu, marah, dan kecewa.
Mengapa ini terjadi ???
Karena tubuh dan otak kita masing-masing memiliki program unik untuk menafsirkan tanda dari perasaan aman atau tidak aman di dalam tubuh sebagai reaksi emosional. Akibatnya, saat kita bisa menafsirkan dari pengalaman negatif, ingatan dari kejadian yang serupa akan muncul di pikiran secara acak dan spontan sekalipun kamu sudah berpikir positif.
Oleh karena itu sangat mungkin ketika seseorang mengalami verbal-bullying, mereka akan mengalami ledakan emosi yang dapat mengakibatkan trauma yang berkepanjangan dan depresi.
Ibarat
kamu tidak mau menyeberang jalan sendirian karena pernah mendengar dari seseorang bahwa kamu bisa saja mengalami kecelakaan mobil saat menyeberang jalan sendirian. Atau, ketika kamu mengalami putus cinta, kamu akan merasa sakit hati begitu dalam, moment perkataan atau perlakuan dia yang menyakiti hati, akan menghasilkan asumsi bahwa lawan jenis didunia ini semua jahat.
Dalam situasi itu,
Situasi Pertama dan kedua— kamu mungkin merasa, jika rasa khawatir itu muncul begitu saja secara acak di pikiran, sehingga bukan salah kamu jika tidak bisa berbuat hal lain selain terus memikirkan hal tersebut.
“Gue kan emang begini?”
Padahal kamu bisa mengambil sikap bijak dari setiap kejadian. Tentang apakah kamu ingin hidup dalam lingkaran kekhawatiran dan rasa sakit hati itu setiap hari atau dengan tegas memilih untuk menerima dan menyadari lalu move-on . Dua hal yang harus kamu dan kita sadari bahwa, dalam beberapa kejadian, kita tidak memiliki kendali atas semua ungkapan kejadian sarkastik yang sampai ke telingamu. Tetapi kamu memiliki kendali atas bagaimana kamu akan bertindak terhadap kata-kata dan tindakan mereka tanpa harus bersikap impulsif.
Salah satu cara untuk membiasakan melatih mental kuat yaitu dengan belajar mengendalikan dan mengetahui pola mental diri sendiri dalam proses introspeksi diri. Karena mungkin kamu merasa kesulitan untuk mengambil posisi inferior dan rendah diri dalam mengelola pola mental. Karena Saya pribadi pun, sering kali bersikap impulsif untuk langsung menempatkan diri atau orang lain di antara benar dan salah. Oleh karena itu, sama seperti turnamen olahraga yang membutuhkan komitmen latihan agar baik dari waktu ke waktu, Berikut ada lima kebiasaan dasar yang dapat membantu kamu membangun mental kuat secara emosional:
Belajar Mengelola Emosi Harus Jujur Kepada Diri Sendiri

Belajar mengelola emosi adalah kunci penting untuk membangun mental yang kuat. Salah satu langkah pertama untuk melakukan ini adalah dengan belajar mengenali dan memahami emosi diri sendiri dalam situasi tertekan. Ini adalah sesuatu yang tampaknya mudah, tetapi sering disepelekan.
Selalu ingat, bahwa kamu memiliki kendali atas bagaimana kamu menanggapi kata-kata dan tindakan mereka.
Misalnya, dalam situasi konflik, beberapa orang akan bingung untuk bersikap ketika di bentak di salahkan, tapi sebagian orang akan bertindak emosional mempertahankan harga dirinya. Ini merupakan emosional yang bertolak belakang. Dari kedua emosi tadi, kamu bisa bersikap untuk mencoba mendengarkan setiap ucapan mereka tanpa harus mendahulukan emosi kamu benar dan dengan berani membalas ucapan lawan bicara atau kamu salah dan langsung menutup diri dan resign.
Penting untuk Kamu bisa membagi opini, dan mem-filterperkataan mereka yang bagi kamu kurang penting untuk terus kamu pikirkan dan menjadi sakit hati di kemudian hari. Misalnya, bagian mana dari pekerjaan saya yang salah? atau ide apa yang mungkin berbeda dengan hasil meeting sebelumnya, sehingga hasil pekerjaan saya hari ini benar-benar salah.
Dalam situasi ini, pentingnya kamu memiliki note/ catatan tertulis atau record note. tentang apa yang menjadi tugas yang akan di kerjakan dan apa yang menjadi evaluasi. Ini bisa mempermudah kamu dalam intorpeksi dengan diri sendiri atau membuktikan bahwa kamu sudah sesuai dengan meeting minggu lalu.
Selanjutnya, Ketika seseorang bersikap terlalu sarkasme, dan setelah kamu menerima itu semua,Kamu bisa memutuskan untuk tidak mengatakan apa-apa dan lebih memilih untuk fokus menyelesaikan laporan lain yang harus diprioritaskan dan diselesaikan pada hari itu. Jika mereka dirasa sudah terlewat batas, kamu bisa menjelaskan dengan sopan dan tegas kepada mereka bahwa kamu tidak menyukai sikap dan perkataan mereka.
Kamu boleh meluangkan beberapa menit untuk diri kamu sendiri, demi memperbaiki suasana hati. Seperti, kamu bisa berbicara kepada orang yang dapat kamu percayai walaupun via telepon atau dengan cara lain yang akan membuat kamu nyaman. Tentu ini lebih baik bagi kamu daripada bertindak secara impulsif dalam menanggapi sarkasme dari atasan atau teman di kantor, pasangan, keluarga, atau teman dengan membalas sindiran jenaka itu sendiri.
Selain itu, saat memiliki waktu luang di luar tugas prioritas, kamu perlu mengobrol dengan diri sendiri untuk mempertanyakan tentang apakah kamu marah atau kecewa? Jika marah, jenis kemarahan seperti apa dalam situasi tersebut, frustrasi, marah, jengkel atau mungkin lebih kepada rasa sakit hati. Namun, sakit hati seperti apa? Apakah sakit hati itu berada di level rasa sedih atau sampai kepada tahap kecewa? Menyesal atau malu? Atau mungkin kamu merasakannya di antara kombinasi tersebut. Setelah mempertanyakan perasaan diri sendiri, alangkah lebih baiknya kamu juga mempertanyakan, kenapa mereka bertindak atau berkata seperti itu kepada kamu? Dari sana, kamu akan menemukan cara yang sehat untuk jujur kepada diri sendiri, dan juga mengajari otak dan hati untuk membagi tentang apakah perasaan itu buruk atau berbahaya untuk menjaga perasaan dirimu sendiri dari perlakuan orang lain, sehingga nantinya kamu akan bisa mengambil sikap bijak untuk mereka.
Penguasaan diri

Untuk menciptakan pikiran dan emosional yang kuat, mengembangkan penguasaan diri adalah kebiasaan yang sangat penting. Dengan menghindari rasa over-think yang berlebihan. hal ini bisa mengurangi sikap kamu untuk tidak bertindak impulsif terhadap masalah kamu.
Orang yang memiliki kesedihan berlebih hingga masuk ke dalam posisi depresi datang dari pemikiran seseorang yang merasa bahwa mereka tidak cukup baik atau lebih buruk dari posisi orang lain. Ini terjadi ketika mereka terlalu keras pada diri (keras kepala) bahwa mereka memang bersalah. Rasa bersalah ini bisa membuat mereka merasa takut dan kesal dengan diri sendiri.
Disisi lain, berpikir bahwa kamu selalu benar juga tidak selalu baik. Perasaan selalu benar Ini bisa merusak mental kamu karena tidak mau mendengarkan orang lain dan mungkin akan menciptakan distorsi yang lain. Memiliki sikap selalu benar dapat menyebabkan tingkat kemarahan yang berlebihan, kebencian, agresi, dan konflik hingga menimbulkan rasa dendam kepada orang lain. Sangat penting untuk diingat bahwa dalam hidup, terkadang tidak ada posisi yang selalu benar atau salah. Kita hanya perlu belajar dari masalah kita setiap hari dan mencari solusinya.
Lebih baik kamu memikirkan bucket-list kehidupan kamu selama lima tahun ke depan, daripada harus menguras emosional negatif dari kalimat sarkasme yang mungkin ketika kamu dengar hanya berlangsung selama lima menit. Merelakan rencana lima tahun ke depan, hanya untuk memikirkan masalah lima menit dan merusak semuanya adalah tindakan egois kepada diri sendiri.
Fokus kepada kebahagian diri sendiri
Sangat penting untuk menjaga diri sendiri agar merasa bahagia dan kuat di dalam. Prioritaskan untuk tidur cukup, makan makanan sehat dan bergizi, dan juga olahraga teratur. Selain itu, kamu juga harus memikirkan kegiatan kamu di luar rutinitas biasanya untuk melakukan hal-hal yang kamu sukai.
Dalam proses ini, kamu mulai mengenal diri kamu. Seperti hobi atau aktivitas yang membuat kamu bahagia. Hal ini juga dapat membantu kamu rileks dan mengurangi stres karena bertemu dengan orang baru. Kamu bisa mengisi kegiatan yang bersifat emosional seperti menulis jurnal, berbicara dengan seseorang yang dipercaya, atau menggunakan teknik relaksasi seperti meditasi atau fokus kepada hal yang lebih utama yang sekiranya kamu akan lebih baik untuk mengerjakan itu.
Dalam hidup bersosial, kamu juga perlu mencari lingkaran pertemanan baru yang lebih luas lagi. Selain untuk memperluas lingkup sosial, dan hubungan pertemanan, kamu juga akan mendapatkan pandangan positif dari lingkaran pertemanan baru, di tempat baru.
Perlu diingat untuk berbicara kepada seseorang yang dipercaya, kamu harus benar-benar bersikap bijak dan jangan mengutamakan ego, jangan sampai ceritamu akan menjadi bumerang untuk dirimu sendiri hanya karena kamu menceritakan kepada orang yang salah. Pada dasarnya kamu hanya butuh meluangkan waktu beberapa menit untuk mengakui perasaan dengan jujur. Tidak ada yang salah ketika kamu ingin mengambil waktu sendiri jika itu cara terbaik untuk membangun kekuatan mental dan ketahanan emosional kamu dari waktu ke waktu.
Kultivasi rasa syukur
Mengungkapkan rasa terima-kasih kepada orang lain dan diri sendiri dapat membantu kamu untuk memiliki sikap bersyukur, dan dapat membantu kamu dalam membangun mental positif dan kuat. pentingnya memiliki waktu untuk menghargai setiap momen dalam hidup. Kamu dapat menceritakannya dalam jurnal, atau mengabadikannya dalam bentuk foto atau video singkat. Jika boleh saran, kumpulkan segala momen baik kamu dalam pecahan foto atau video selama satu bulan hingga menjadi sebuah dokumenter pribadi. Misalnya, mendapat pertolongan dari orang lain, atau mendapat air mineral gratis dari teman dilingkungan kamu. Walaupun air meneral itu juga harus disyukuri, bayangkan satu botol ukuran 1 liter itu, mereka masih mengingat kamu. Sederhana namun berkesan bukan. Perasaan bersyukur kamu hari ini akan membuat kamu selalu bahagia. Kesehatan mental yang kuat dapat ditingkatkan dengan lebih memprioritaskan orang yang percaya pada potensi dan kebaikan kamu daripada kamu harus memprioritaskan orang yang tidak percaya dengan kamu.
Belajar dari kegagalan dan melihatnya sebagai motivasi
Mental emosional yang kuat melibatkan kemampuan untuk belajar dan tumbuh dari kegagalan serta menghadapi tantangan hidup dengan lebih bijak. Percaya, bahwa asumsi atau opini bisa juga menjadi motivasi diri kamu untuk memperbaiki diri. Latihlah diri kamu untuk mempraktikkan kesabaran, toleransi, untuk mengelola konflik dengan baik. Jika pada akhirnya hanya ada satu orang yang percaya dan ingin menjadi support-system di dalam hidup kamu, maka jaga persahabatan tulus itu, syukuri, dan fokus kembali pada tujuan awal. Cukup menyakitkan, tapi ini realistis.
Lihatlah kegagalan itu lebih dekat maka kamu akan mengerti bahwa kegagalan di awal adalah peluang untuk belajar, dan bukan sebagai tanda kelemahan jika ada yang mengkritik kamu. Jadikan kegagalan sebagai batu loncatan untuk mencapai kesuksesan lebih besar, dan hadapi tantangan dengan sikap yang penuh keyakinan.
Perlu diingat bahwa kekuatan mental adalah kemampuan untuk mengendalikan pikiran kita agar tidak dominasi oleh emosi sepenuhnya. Dan itu adalah keterampilan yang dapat di bangun lewat aktivitas keseharian kamu dalam membangun mental emosional yang kuat. Cobalah ide-ide yang di sebutkan dan lihat apa yang membantu kamu merasa kuat secara emosional. Semoga informasi ini bermanfaat ya.