Ingin Jadi Orang Percaya Diri : Ini 4 Kebiasaan yang Dihindari Orang Percaya Diri
25 Sep 2023

Kepercayaan diri bukan sesuatu yang bisa kamu dapatkan atau beli seperti mainan secara instan. Menjadi pribadi percaya diri itu seperti mencari rasa bahagia. Semakin dicari semakin tidak bisa didapat, dan berujung pada ketidakpuasan diri.
Menariknya, ketika kamu berusaha keras untuk berlatih membangun rasa percaya diri, tanpa bertanya mengapa kamu tidak percaya diri. Ini hanya membuat kamu semakin merasa khawatir, tertekan, dan tidak yakin atas pendapat di dalam pikiranmu sendiri.
Orang-orang yang dinilai sangat percaya diri, biasanya mereka memiliki pola pikir yang positif. Mereka cenderung melihat kehidupan dengan sudut pandang yang optimis dan selalu peka dengan peluang di setiap tantangan yang dihadapi. Orang yang percaya diri juga memiliki kebiasaan untuk mengembangkan diri secara terus-menerus. Mereka menyadari bahwa belajar adalah proses seumur hidup dan mereka selalu mencari peluang untuk meningkatkan diri dan bertanggung jawab atas diri mereka sendiri.
Jika pada kenyataannya seperti ini, bagaimana jika kita putar pola pikirnya, tentang bagaimana merasa nyaman dengan diri sendiri? Orang yang merasa percaya diri, cenderung merasa nyaman dengan dirinya, dan biasanya mempunyai kebiasaan yang berbeda dengan orang yang tidak merasa percaya diri. Yuk kita intip empat kebiasaan buruk yang biasanya tidak dimiliki oleh orang yang percaya diri.
Membandingkan Diri dengan Orang Lain
Orang yang percaya diri menghindari untuk membandingkan diri mereka dengan orang lain. Mereka menyadari bahwa setiap orang memiliki kekuatan dan kelemahan yang unik. Ketika mereka merasa kurang dengan diri sendiri, mereka lebih mengutamakan solusi untuk membangun diri mereka sendiri, demi mencapai tujuan pribadi tanpa terpengaruh oleh pencapaian orang lain.
Strategi otak: Ingatkan kepada diri sendiri bahwa setiap orang memiliki perjalanan hidup yang berbeda dan menghargai keunikan diri sendiri. Hadapi proses dan yakin. Meskipun, saat kita merasa khawatir atau takut, kita akan meminta kenyamanan, berupa validasi atau konfirmasi kata dari seseorang yang kita pikir mereka bisa memberikannya.
Nyatanya, meminta pengakuan atau validasi kepada orang lain hanya untuk membandingkan diri dengan yang lain, ini terlihat aneh. Tidak ada bedanya dengan sikap ingin selalu diterima atas persetujuan dari orang lain. Jika mereka akan mengatakan sebaliknya, dan tidak sesuai dengan ekspektasi, kamu akan kecewa. Namun setelah mereka belajar dari pengalaman, mereka akan berbicara sesuai dengan ekspektasi di dalam pikiranmu. Jika inginnya seperti apa yang kamu inginkan, apa yang harus di validasi?
Mereka akan mengatakannya secara jujur dan natural jika memang mereka melihat kamu seperti perkataannya. Jangan pernah ingin diterima karena untuk dilihat orang lain, atau ingin hidup seperti orang lain, karena hasilnya pasti berbeda.
Mungkin kamu akan merasa lega untuk beberapa jam, atau beberapa menit. Tetapi efeknya sama seperti obat pereda nyeri atau penenang. Obat pereda hanya meringankan gejala dari rasa sakit untuk sementara, bukan penyebabnya. Menggantungkan harapan, atau kepastian kepada orang lain, hanya melatih otak kamu untuk mengenal rasa takut, cemas dan kurang percaya diri.
Jika kamu ingin melatih rasa percaya diri. Kamu harus melatih otak kamu untuk percaya bahwa rasa cemas itu tidak nyaman, namun juga tidak berbahaya.
Berani menoleransi rasa takut tanpa harus mencari validasi, kepastian, ataupun penerimaan dari orang lain. Ada kalanya kamu harus mandiri untuk menyemangati diri sendiri. Selain itu, cobalah untuk bertanya kepada diri sendiri tentang mengapa kamu merasa takut, kurang, dan khawatir. Jika kamu tidak pernah melakukannya, rasa tidak nyaman itu akan muncul kembali, dan biasanya lebih kuat dari sebelumnya.
Khawatir Tentang Hal - Hal yang Tidak Dapat Kamu Kendalikan
Ada beberapa hal dari sikap idealis manusia yang terkadang dapat merugikan dirinya sendiri dikemudian hari. Beberapa orang percaya bahwa, jika kita bisa berpikir cukup keras dan cukup lama untuk mempersiapkan diri menghadapi setiap kemungkinan hasil negatif, segala sesuatunya akan menjadi lebih baik — orang yang kita cintai akan tetap aman, bencana akan dapat dihindari, dan hidup kita akan sukses sejahtera.
Namun nyatanya tidak selalu seperti itu, fakta menarik dari otak manusia adalah kekuatan mind-set dapat merubah pilihan dan rencana awal kamu sesuai dengan apa yang kamu takutkan atau apa yang kamu harapkan di pikiran.
Oleh karena itu, bertindak khawatir secara berlebihan, ini sama saja melatih otak kamu untuk percaya bahwa hal-hal buruk yang kita bayangkan adalah nyata dan mungkin saja terjadi. Efeknya, di awal, bagi sebagian dari kamu akan merasakan perasaan cemas dan takut berlebihan. Jika hal ini terus berlanjut, rasa anxiety dari over-thingking ini akan berefek pada sikap kurang percaya diri dan stres dalam jangka waktu panjang.
Strategi otak: Coba untuk mengubah persepsi tentang apa yang membuat kamu takut, atau gagal, dengan melihatnya sebagai peluang belajar. Membuat daftar dari setiap pelajaran yang dipelajari dari kegagalan sebelumnya dan menggunakan pengalaman itu untuk tumbuh dan berkembang.
Selebihnya, kamu harus menyadari, bahwa hidup hanya perihal menjalani dan menikmati apa yang sedang terjadi, bukan menyesali apa yang sudah terjadi, ataupun mengkhawatirkan bayangan masa depan yang belum terjadi. Semakin kamu terus-menerus merasa cemas dan takut, semakin sulit kamu untuk membangun rasa percaya diri.
Selain cepat merasa cemas, kecewa, dan khawatir. Manusia memang suka dengan kehidupan yang tertata sesuai dengan rencananya, namun menjadi paradoks jika ternyata, tidak semua rencana bisa kendalikan. Dua hal yang bisa membuat manusia kecewa dengan rasa cemas dan berdampak pada rasa percaya diri yaitu, masa depan dan orang lain. Kunci untuk meredakan kebiasaan ini adalah dengan bersikap realistis dengan mengurangi kendali.
Jika kamu percaya energi manusia sangat kuat, percayalah kekuatan otak manusia lebih kuat dari apa pun. Jangan sampai ketakutan dan kecemasanmu berubah menjadi mind-set yang tidak bisa diubah sama sekali.
Memikirkan Kesalahan Masa Lalu
Jika dilakukan dengan cara yang baik dan benar, merenung adalah suatu bentuk pemikiran yang sangat erat kaitannya dengan pemecahan masalah, analisis, dan evaluasi. Mengambil waktu sendiri untuk merenung sebenarnya bentuk positif dari strategi evaluasi diri.
Namun, jika mengambil waktu merenung hanya berproses pada satu titik yaitu “kalau aja”, maka makna merenung hanya menjadi sesuatu yang dangkal dan egois. Lalu, mengapa kita masih melakukannya?
Sadari dulu, bahwa manusia memang diciptakan tidak sempurna, dan kesalahan adalah bagian alami dari kehidupan. Walaupun manusia memiliki banyak perbedaan dan kekurangan, jangan meminta untuk selalu dimengerti ataupun didengar. Karena tidak ada manusia yang bisa mengerti selain diri kamu sendiri.
Strategi otak: Emosional dari rasa sedih adalah bentuk normal kita sebagai manusia, namun jika ini berlebihan juga tidak baik untuk diri sendiri. Jika kita sudah memvalidasi rasa sedih, namun perasaan itu muncul kembali di kemudian hari, cukup sadari kalau kenyataannya kamu sudah melewati fase kelam itu. Walaupun kenangan kelam itu akan selalu ada, namun tidak ada kuatmu dan pemahamanmu yang lain di hari ini, jika belum pernah merasakan kesedihan.
Coba alihkan fokus dari kesalahan dimasa lalu ke hal-hal yang positif dalam hidup. Misalnya, menulis jurnal tentang pencapaian, keberhasilan, dan momen-momen bahagia yang sudah kamu lewati setelah fase kelam. Ini bisa membuat kamu lebih tenang, jujur, dan bersyukur.
Ingatkan diri sendiri, kamu adalah lebih dari sekedar kesalahan masa lalu yang pernah kamu buat. Apa yang sudah terjadi, itu sudah tertulis dan tidak bisa diubah. Namun, kamu juga harus ingat bahwa hari ini kamu sudah menulis takdir menjadi versi yang lebih baik.
Belajar untuk memaafkan diri sendiri adalah langkah penting menuju pemulihan dan pertumbuhan meningkatkan rasa percaya diri. Beri izin diri kamu untuk menjalani kehidupan masa depan dengan bijaksana, ini lebih baik daripada membiarkan diri sendiri menjadi buronan masa lalu.
Ketika semua orang menilai kamu sebagai penjahat kelas kakap, entah siapa yang salah, apalagi, hanya mendengar kabar burung dari mulut tak bertanggung jawab. Percayalah, dalam proses melepaskan, kamu akan mengalami banyak kehilangan, popularitas dan orang-orang dimasa lalu. Hikmahnya, kamu akan menemukan diri kamu seutuhnya, kamu seperti memiliki kekuatan super untuk bersikap bijak dan menilai lebih dekat, tentang siapa yang menilai kamu seutuhnya, bukan seperlunya. Dengan begitu kamu bisa lebih percaya diri menghadapi dunia.
Mengutamakan Perasaan Ketimbang Logika
Orang yang percaya diri terbiasa menggunakan penalaran logika untuk mengambil keputusan, ketimbang penalaran berdasarkan emosi. Hal ini terlihat remeh, namun nyatanya sulit dilakukan oleh kebanyakan orang dewasa.
Orang dewasa suka sekali membuat rencana, namun berakhir hanya menjadi wacana. Ketika kamu mengatakan sesuatu yang penting, lalu bertindak bertentangan dengan komitmen tersebut, itu artinya, kamu mengajarkan otak kamu bahwa kamu memang bukan orang yang bisa dipercaya, dan tidak dapat diandalkan. Alasan terbesar kita melakukan ini karena kita lebih menggunakan hati untuk mencapai tujuan ketimbang logika.
Misalnya, kamu memiliki rencana untuk melakukan ibadah di jam 3 pagi. Kamu sudah set alarm di jam yang sudah kamu rencanakan. Saat alarm sudah berbunyi, dan kamu merasakan suasana dingin, gelap, dan waktu sudah menunjukkan jam 3, kamu memilih untuk kembali tidur, karena merasa terlalu dingin, terlalu pagi, yang akhirnya melupakan rencana awal sebelumnya.
Atau, kamu sedang berencana untuk diet karbo hari ini, namun karena ada sesuatu hal, misal, diskon 10% untuk makanan kesukaan. Kamu memilih untuk membatalkan janji diet tersebut, Apakah esok hari kamu bisa kembali memegang janji untuk dirimu sendiri? Belum tentu, ada banyak kemungkinan yang ada di dalam hatimu tentang, hari besok belum tentu ada seperti hari ini. Selalu begitu, sampai akhirnya kamu menyesal sendiri.
Perasaan nafsu, dan emosi manusia cenderung lebih suka kepada kesenangan jangka pendek. Kepada apa yang menurut mereka menyenangkan hari ini. Masalahnya adalah ada pada cara mendapatkan perasaan baik yang seringkali mengorbankan perbuatan atau hasil di masa depan.
Strategi otak: Jika kamu ingin membangun energi positif, memiliki prinsip yang kuat, bertanggung jawab dan percaya diri. Kamu harus melatih untuk mengerti emosimu sendiri. Mulailah dengan hal-hal kecil secara konsisten menindaklanjuti rencana yang sudah kamu buat sebelumnya.
Ingatkan kembali kepada dirimu sendiri, sebelum meminta untuk di percaya oleh orang lain, kamu harus lebih dulu percaya dengan dirimu sendiri. Dan ketika otak dan hati mulai berjalan selaras dengan apa yang ingin kamu mau, secara alami, otak dan hati akan memberi tahu bahwa mereka mulai percaya bahwa kamu adalah tipe orang yang mengejar apa yang penting, dan bukan apa yang terasa baik dan mudah dicapai saat ini. Dalam proses inilah kamu akan merasa lebih percaya diri secara alami.
Penutup / Daripada mencoba melakukan hal-hal yang akan menambah rasa percaya diri atau membuat kamu merasa lebih percaya diri karena bergantung dengan sesuatu hal, lebih baik mencoba untuk berusaha menghilangkan hal-hal yang merusak rasa percaya diri dengan berhenti meminta validasi, berhenti berpikiran buruk atau mengkhawatirkan hal-hal yang tidak bisa kamu kendalikan sebagai manusia, berhenti untuk menyesali masa lalu, dan berhenti untuk membuat keputusan berdasarkan tingkat emosi dan perasaan dengan begitu, hidup kamu akan lebih bahagia dan lebih percaya diri …