Representasi Masyarakat Urban Jakarta pada Tokoh Togar dan Guther Melalui Short Movie “Balik Jakarta” Dalam Konsep Teori Ruang Henri Lefebvre.

9 Feb 2021

Kota Bekasi pada malam hari ini di bulan July sangat lah dingin, hal ini merupakan efek dari empat hari lamanya hujan turun dengan lebat. Suasana dingin ini gue manfaatkan untuk memasak mie rebus instan dengan tambahan bawang putih mentah, cabe rawit, dan sedikit mentega agar bertambah gurih. Ini sungguh lezat, dan menambah waktu me time gue pada malam hari ini.

Kalian pernah mecobanya ?

Btw, Sudah lama, selama gue focus untuk menyelesaikan Skripsi bab 4 gue. Akhirnya malam ini Gue ada waktu untuk log-in ke situs Medium.com yang sudah lama sepi. Hobi gue selama bermain Medium.com adalah hide or Publish storie. hahahaha….

Kali ini, sambil mengenang masa kuliah di semester lalu. Gue jadi teringat ada salah satu mata kuliah yang gue sangat suka untuk di bahas. Sebenarnya, mata kuliah ini adalah mata kuliah untuk Mahasiswa konsentrasi Sastra. Kebetulan gue dulu masuk dalam bidang minat Linguistik.

Dulu, gue tau short movie ini dari dosen gue, namanya Bang Adit. Beliau Mengisi mata kuliah pada semester enam lalu. Tugas pertama beliau kepada gue adalah me review film menggunakan teori Henri Lefebvre. Pasti anak Sastra udah biasa banget kan, kalau dapet tugas pasti gak jauh-jauh dari film dan novel sastra. hahaha….

Setelah menonton film “ Balik Jakarta”. Gue merasa kalau ini adalah film pendek Indonesia favorit gue. dan, setelah menonton film ini gue langsung suka dengan film- film dari produksi Studio Antalope . Bagi gue, isi film mereka keren-keren, dan memberi warna baru pada cerita yang kadang di anggap tabu, tapi menjadi sebuah realitas dalam kehidupan sosial masyarakat, khususnya di Indonesia.

Film ini simple, di ambil secara general dalam cultural masyarakat Indonesia. Dalam artian. situasi dari permasalah dalam film ini seringkali terjadi, dan dianggap sepele padahal bisa menjadi sebuah permasalahan yang kompleks yang kita bisa temukan di kota Jakarta.


Secara umum kita mengenal kota Jakarta sebagai ibukota negara yang maju dan modern. Dalam sudut pandang gue pun demikian. Kota Jakarta telah menjadi identitas kota yang bersifat multikultur modern, yang dimana cerminan dari kota Jakarta erat hubungannya dengan, perputaran ekonomi bisnis, kemegahan tehnologi dan transportasi, tata kota yang rapih, dan pendidikan yang memadai.

Pengharapan masyarakat daerah kepada kota Jakarta datang dari pengaruh representasi kota Jakarta itu sendiri, sehingga orang-orang berani untuk datang ke kota Jakarta. Hal ini gak jauh-jauh dari harapan seseorang untuk bisa menghasilkan uang dengan penghasilan yang besar, yang katanya hal itu bisa terjadi jika bisa tinggal di Jakarta. Tapi di lain sisi, Kota Jakarta di isi juga dengan masyarakat kelas menengah ke atas, orang Asing dengan alasan urusan bisnis. Dan cerminan itu bisa kita temui di daerah Jakarta Pusat, selatan, yang dimana gedung-Gedung pencakar langit menghiasi mewahnya kota Jakarta pada malam dan siang hari.

Hal ini sejalan dengan teori Henri Lefebvre yang menyebutkan bahwa ruang itu seperti ‘les espaces vécus’ atau ‘ruang hidup’. Ibaratnya, Jakarta itu sebagai ruang. Ruang kosong yang bisa di tempati oleh siapa saja, di isi, dan di fungsikan sebagai identitas apa saja. (bisa seperti identitas Ruang Lab, ruang komputer, atau ruag kelas yang bisa di sesuaikan dan ditempatkan sebagai tempat apa saja) Sehingga, keadaan ruang Jakarta tidak bisa dilihat secara utuh atau netral.

Dalam film BALIK JAKARTA, fenomena dua budaya pun terlihat dari pemeran Gunther si bule yang menjadi penumpang ojek pengkolan, dan pemeran Togar seorang perantau asal Sumatra Utara yang menjadi supir ojek pengkolan yang membantu Gunther.

Dalam film ini, mereka berdua saling mengisi produksi ruang sosial dengan konsep pemikiran mereka masing-masing. hal ini terjadi pada scene saat mereka mengobrol diatas motor. Togar dengan pengalamannya dan background lingkungan masyarakat Sumatra utara dan Jakarta nya, sedangkan Gunther berbagi dengan masalah dan budayanya sendiri, yaitu German.

Komunikasi ini menciptakan ruang Jakarta yang penuh dengan perbedaan tampilan, budaya, dan cara berpikir dari dua perspektif budaya yang berbeda dalam satu tempat, didalam kota Jakarta.

Tidak hanya peran Gunther dan Togar yang menjadi representasi wajah Jakarta, namun hal ini juga datang dari masyarakat urban yang ditampilkan dalam film BALIK JAKARTA.

Faktor-faktor re-produksi ruang sosial yang terjadi di kota Jakarta pada hari ini, dimulai dari rantai/sistem artikulasi seseorang dalam keseharian mereka yang lalu terkoneksi secara natural dalam realita masyarakat budaya. (misal, aktivitas masyarakat urban, menunjukan dimensi material secara real life.) Dalam artian, permasalahan sosial, khususnya di kota Jakarta hari ini, terbentuk dari campuran konsep budaya antar individu dengan individu. Seperti; asal tempat tinggal mereka, lingkungan mereka saat ini, cara mereka di perlakukan oleh masyarakat budaya, budaya gender mereka, sehingga menghasilkan cara mereka berfikir, mengambil sudut pandang sesuai dengan masyarakat budaya di dalam lingkungan tempat mereka tinggal, sehingga mengisi ruang Jakarta dan menjadi cerminan dari kota tersebut.

Contohnya, kita semua pasti sudah terbiasa melihat gaya budaya bahasa Jaksel berbicara. Namun bahasa Jaksel tidak terjadi begitu saja di dalam lingkungan Jakarta Selatan yang terjadi pada saat ini. Pada dasarnya diseluruh wilayah Jakarta, pada jaman dulu sama-sama menggunakan bahasa Indonesia. Lalu seiring berjalannya zaman, bahasa Jaksel tercipta hasil dari pengalaman individu/seseorang yang mereka bawa dari lingkungan tempat tinggal lalu dilanjutkan kepada lingkungan sosial masyarakat tertentu yang bisa menerima bahasa campur tersebut.

Dari banyaknya individu yang membawa latar belakang mereka dan di bawa lagi dalam bentuk komunikasi sosial kepada individu lain / orang lain, pada akhirnya budaya bahasa Jaksel menjadi bahasa dan budaya baru pada hari ini,menjadi identitas didalam lingkungan Jakarta selatan itu sendiri. Efeknya, hal ini menjadi mengisi ruang lain dalam Jakarta Selatan itu sendiri sebagai produksi ruang sosial, dan identitas mereka, didalam lingkungan Jakarta Selatan dan sekitarnya. dan begitupun sebaliknya pada produksi ruang sosial lain di daerah lain. Dengan demikian, konsep produksi ruang sosial tidak akan bisa lepas dari faktor bahasa, dalam konsep produksi ruang budaya sosial itu sendiri dalam setiap daerah. (Misal, meng-cakup pada simbol,(bahasa isyarat), dan logat)

Dalam film BALIK JAKARTA. Simbol yang mereka ceritakan sehingga kita bisa menilai kehidupan pola pikir, bahasa, dan budaya dari kehidupan peran Togar, adalah ketika Togar menceritakan filosofi tokek pada sticker di speedometer motornya.

#The power of budaya dan bahasa.

Menurut Togar, Representasi tokek dalam budaya suku batak didaerahnya sangatlah penting, karena hal ini mengartikan sebuah pandangan hidup seorang bahwa kita harus bekerja keras dan bertahan hidup.

bahasa halusnya, kita jangan nyerah apapun yang terjadi, ya jalanin aja, namanya juga hidup, setidaknya bertahan untuk diri sendiri.

Selain itu, keadaan produksi bangunan yang berbeda-beda juga bisa menjadi simbol budaya kota Jakarta itu sendiri. Hal ini sesuai dengan teori Lefebvre tentang ruang dan masyarakat, yang mengatakan bahwa

“Setiap tempat, atau setiap ruang urban, harus menampillkan jenis kontinuitas tertentu yang dihasilkan dari siklus sejarah dan waktu yang menciptakan sejarah tersebut”

Oleh karena itu yang akan berpengaruh pada dimensi bahasa dan klarifikasi ruang dalam film balik Jakarta juga berokus pada teori Henri Lefebvre yang mengatakan juga bahwa

“tidak ada ruang yang sepenuhnya “ideal” Karena ruang itu secara spasial dalam masyarakat kapitalis modern merupakan arena pertarungan yang tidak akan pernah selesai diperebutkan” dan ini memang benar terjadi bahwa tidak ada ruang yang ideal untuk manusia.

Ketika kita melihat keadaan, Budaya sejarah tempat asal Tigor, tempat tinggal Tigor sekarang, dan representasi kota Jakarta itu sendiri, menjadi sesuatu hal yang sederhana, namun kompleks. Jika mengikuti teori Henri Lefebvre. Film tersebut merepresentasikan interaksi masyarakat Jakarta yang aktif berkomunikasi satu sama lain dari perspektif realitas kota Jakarta. dalam artian, realitas kota Jakarta menjadi sebuah cerminan budaya, dan situasi yang cukup hidup, dan itu menjadi ciri budaya orang Indonesia.

Selain itu, dalam Film ini, ketika berbicara tentang konsep budaya pusat kota Jakarta, pandangan kita langsung mengarah kepada nilai sebagai tempat surgawi. Kota Jakarta selama ini dianggap sebagai Center point dalam pembangunan pemerintah, seperti fasilitas umum, tata kota, ekonomi, keamanan, demografis dan pendidikaan. Hal ini yang akhirnya menciptakan ruang baru berbentuk privacy dari para penghuninya. Dari konsep Privacy tersebut, tanpa sadar sudah merubah konsep yang berbeda dari representasi orang Indonesia sebelumnya yaitu, sikap masyarakatnya yang berbaur, gotong royong. Konsep baru dari jiwa Jakarta tidak terlepas dari pengalaman masa lalu dan situasi yang menciptakan budaya dan trauma dari masing-masing individu tersebut, sehingga menciptakan reaksi yang berbeda. Sehingga tercipta lagi perbedaan dalam proses evolusi peradaban manusia, dalam setiap daerah ketika gedung gedung tinggi semakin banyak.

(Mungkin konsep gotong royong yang ada dikepala gue berbeda dengan konsep manusia (yang mungkin ada pendapat lain dalam hal ini). ya jadi intinya, balik lagi setiap pilihan pasti ada sebab dan akibatnya, dan balik lagi ke teori, bener kalau levebre tidak ada ruang ideal) #lagingomongsendirisambilngetik.

Dalam film BALIK JAKARTA selain merepresentasikan kelebihan dari pusat kota jakarta, film ini juga menceritakan aktivitas masyarakat pinggir kota Jakart yang masih terlalu banyak kekurangan dalam hal fisik kota Jakarta itu sendiri. Seperti, pembangunan tata kota yang tidak teratur,jalanan yang kecil, rumah-rumah yang saling berdempetan, pelesetarian kemiskinan, serta tidak adanya privacy dalam setiap penduduk. Namun masyarakatnya masih tergolong pada representasi indonesia yang gotong royong. hal ini berbanding terbalik dengan keadaan dari pusat kota Jakarta.

Hal ini menunjukkan bahwa dalam kehidupan nyata tata ruang di kota Jakarta, tidak hanya putih, tetapi juga ada hitam. Terutama dalam dinamika sosial ekonomi yang masih menjadi persoalan kesenjangan sosial di kota Jakarta sendiri. Sehigga dengan hal ini kita tersadar bahwa Kota Jakarta tidak akan lepas dari masalah klasik seperti banjir, kemacetan, kesenjangan sosial, / diskriminasi (gender, ras, tahta) hm menarik untuk membahas gender #kapan kapan deh hahaha

Masalah pengalaman hidup didalam sebuah kehidupan yang ada pada diri masyarakat urban JAKARTA (telah menjadi produksi ruang sosial kota Jakarta itu senditi) dan dalam scene “balik Jakarta” berhasil menampilakan situasi tersebut dengan epic.

Adegan itu ada ketika Togar membagikan pengalaman dan drama permasalahan yang ia hadapi. Togar pada dasarnya sama seperti gue, yang menilai kota Jakarta sebagai tempat yang bisa membawa keberuntungan. bedanya gue sama Togar, Togar anak peratau, gue anak Bekasi wkwkkw…..

Togar bilang, dia bertahan hidup dan berusaha tegar dikota besar karena harapan mamaknya di kampung, ketika satu impian sudah tercapai untuk menjadi sarjana S1 akuntansi, selanjutnya cita-cita Togar sama seperti harapan anak muda jangan sekarang yang berharap bisa kerja dikantoran berkat lulusan kertas ijazah S1. Namun pada kenyataanya, teori kehidupan dari cerita orang sukses jaman dulu tidak semudah itu.

Togar berakhir dengan menjadi supir pengkolan Ojek yang sering mengutang kepada temannya hanya untuk ikut taruhan sepak bola. Dan ini yang menjadi stereotype masyarakat kelas bawah bahwa pendidikan tidaklah penting dengan berbagai alasan mereka yang mengucilkan pendidikan tinggi itu sia-sia.

Namun Togar memperlihatkan pengalaman pelajaran ilmu bahasa Inggrisnya yang akhirnya bisa mengantarkan Gunther untuk mencari rumahnya di Jakarta. Dalam kondisi ini memperlihatkan kepada kita lewat teori Henri Lefebvre yang mengatakan bahwa,

Realitas hidup, dan pengalaman praktis, tidak akan selesai melalui analsisis teoritis.

Karena dalam hidup akan selalu ada surplus, sisa, atau residu berharga yang tak sejalan, yang segampang itu untuk teranalisis dengan asumsi masyarakat,namun terkadang hanya dapat dinyatakan melalui cara artistik versi kehidupan masing masing.

Selesai…

Semangat buat kita teman teman….

 

©2023

I hope you find something that speaks to you and that my content can add some happiness to your life. I invite you to explore the possibilities of my words, and I look forward to hearing your thoughts. Thank you for visiting my site. I strive to create meaningful, engaging, and thought-provoking content. I believe in the power of words to inspire, educate, and entertain. I'm excited to share my stories with the readers

GET IN TOUCH